Kembali, sepi

Diriku tidak suka akan hal seperti ini
Baru saja ku buka semuanya
Baru saja ku mulai
Hampa hatiku selalu terjadi

Kilauan mata menatap, menyoroti seorang lelaki yang hanya aku tahu
Tidaklah salah jika dia menyukainya, juga
Tidaklah salah dirinya dan dia menjadi satu
Entah, mungkin takdir?

Waktuku masih ada dan dirinya hadir menjadi hiasan sumber pengilhaman puisi cantikmu
Tak tahu menau, mungkin dirinya sekilas sama
Apa daya, diriku jauh...nan jauh sekali
Sejak umurku 14 tahun, dia selalu pujaan omongan manusia
Ku, si pelajar enam belas tahun. Dengan janji yang penuh kebohongan, berusaha menjadikan dirinya panutan
Panutan yang salah

Haruskah aku mencari lembaran buku yang baru?
Buku ku sudah tua dan dirusaki dirinya
Buku ku berisikan pujaan yang hanya tersampaikan lewat kata-kata sajak tak bernilai
Sajak puisi yang tidak pernah kau baca

Tak usah aku ikuti jalan dirimu lagi, aku tidak mencoba tahu, sekarang
Enggan menjadi saksi dalam kisah kasih cintamu itu
Kilas mimpiku yang telah hancur

Hari kemarin, hari ini, hari esok
Menjadi sepi tanpa dirimu yang selalu melewati jendela kelas hariku
Hampa kembali, selalu

Komentar